Блог О пользователеstormhagen3

Регистрация

На странице

 
ЯнварьФевральМартАпрельМайИюньИюльАвгустСентябрьОктябрьНоябрьДекабрь
           
123456789101112131415 (1)16171819202122232425262728293031
 

Arti Aqiqah Merujuk Agama Islam


Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: menyabet. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan itu. Ada yang mengatakan kalau aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada agaknya yang menyebarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang ada pada kepala si budak ketika ia keluar dari rahim pokok, rambut itu disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk momongan yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 kontrol untuk bocah laki-laki & 1 sudut untuk bayi perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: "Semua anak balita tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. " [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Mulai Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan momongan perempuan satu kambing. " [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. " [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bersabda: "Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, oleh karena itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua seloroh darinya. " [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan wahid kambing. " [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, "Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, sira memberi identitas dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)". [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak perkara 4, hal. 264]

Pemberitahuan: Hasan & Husain ialah cucu Rasulullah saw SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad pada melahirkan Laksmi, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: "Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. " [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Norma Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) serasi pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah merupakan hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, "Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)". (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

"Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan percik darinya buangan (Maksudnya potong rambut rambutnya). " (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: "maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan" adalah titah, namun bukan bersifat tetap, karena terdapat sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban yakni: "Barangsiapa di antara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, dipastikan silakan lakukan. " (HR: Ahmad, Abu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: "ingin menyembelihkan,.. " merupakan kaidah yang memalingkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu diantaranya layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh dalam aqiqah berikut hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam fauna aqiqah itu cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami pada masa jahiliyah apabila khilaf seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan melumuri kepalanya dengan darah kibas itu. Jadi setelah Allah mendatangkan Islam, kami menjagal kambing, menjatuhkan (menggundul) oknum si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud juz 3, hal. 107]

Daripada ‘Aisyah, ia berkata, "Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang bocah, mereka melumuri kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur serabut si bocah mereka mengurapkan pada kepalanya". Maka Nabi SAW bersabda, "Gantilah sundut itu secara minyak wangi".[HR. Pelerai demam Hibban secara tartib Ibnu Balban surah 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah dari segi kesepakatan getah perca ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Rasul SAW bertitah, "Seorang keturunan terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama". (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak juga, maka di hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) bagi dasar imbauan, maka takut-takut menyembelih di hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah semua. Karena sendi ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan menyulitkan sebagaimana tutur Allah SWT: "Allah menodong kemudahan bagimu dan tidak menghendaki pertengkaran bagimu". (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Rasul SAW, yang artinya: "Setiap anak tersebut tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi identitas. " (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan saat hari ke empat belas kasihan, dan kalau tidak mampu, maka di hari di dua puluh satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah dari ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: "Hewan aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, & ke dua puluh wahid. " (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga ahad masih bukan mampu jadi kapan pula pelaksanaannya pada kala telah mampu, sebab pelaksanaan saat hari-hari ke tujuh, di empat belas dan ke dua puluh satu adalah sifatnya sunnah dan paling utama meski wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari di tujuh.

Bayi yang musnah dunia pra hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yang miskram[cak] dengan ukuran sudah berusia empat kalendar di dalam isi ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si bocah. Namun apabila seseorang yang belum di sembelihkan fauna aqiqah per orang tuanya hingga ia besar, oleh karena itu dia siap menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal tersebut tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika bukan bisa lagi, maka dalam hari kedua puluh mono. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi tanggungan ayah.

Namun demikian, jika ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri pada saat mendalam. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, "ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? " Kepala Ahmad menyambut, "Menurutku, jika ia belum diaqiqahi saat kecil, maka lebih elok melakukannya seorang diri saat kuat. Aku gak menganggapnya makruh".

Para saudara Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Pikir mereka, anak-anak yang sudah dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang-orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal merupakan satu upaya baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Pelerai demam Abbas ra: "Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba tunggal domba. " (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kalian harus mengerti bahwa Laksmi dan Husain adalah keturunan kembar. Oleh sebab itu pada mono kelahiran itu disembelih dua ekor kambing.

Namun yang lebih utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 upaya untuk keturunan perempuan berdasar pada hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: "Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor sedia dan daripada anak dara satu termuda. " (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang artinya: "Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor sedia yang seimbang dan atas anak perempuan satu ekor. " (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang anak

1. Disunnatkan untuk memberikan nama dan mencukur serat (menggundul) pada hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir di dalam hari Minggu, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang untuk anak cewek 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan mendapatkan orang tua si anak, namun demikian boleh juga dilakukan sambil keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan dalam kondisi telah dimasak. aqiqah bandung Hadits Aisyah ra., "Sunnahnya dua ekor wedus untuk bani dan wahid ekor wedus untuk bujang perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh". (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah diberikan kepada tetangga dan sengsara miskin juga bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Lagi pula jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya & dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, "Mereka memberi makan orang rendah, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang". (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada tatkala itu adalah orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa memandang apakah lelaki atau bini, sebagaimana hal di kaki gunung ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia tahu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka sabda beliau SAW, "Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak dara satu upaya kambing. Tidak menyusahkanmu elok kambing tersebut jantan atau pun betina". [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum meraih dalil lainnya yang mengisyaratkan adanya satwa selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW berlandaskan dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 dari kelahiran keturunan tersebut. [Lihat saksi dusta riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian ketuat Aqiqah

Mengenai dagingnya oleh sebab itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, & mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat dan tetangga untuk menyantap makanan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada kaum muslimin, dan mampu mengundang teman-teman dan moyang untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Putri Bazz berkata: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya / sebagiannya dan memasaknya kemudian mengundang sosok yang kamu lihat layak diundang dari kalangan nenek, tetangga, teman2 seiman & sebagian orang faqir untuk menyantapnya, & hal seperti dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi bahwa ada signifikansi antara makna sebuah pamor dengan yang diberi pamor. Hal ini ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal tersebut.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: "Kemudian Aslam hendaknya Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya". (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: "Barangsiapa yang mengindahkan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam sebutan berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna ini diambil darinya dan seumpama nama-nama ini diambil dari makna-maknanya". Meski anda ingin mengetahui pengaruh nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang menurut Nabi SAW, beliau pun bertanya: "Siapa namamu? " Aku menjawab: "Hazin" Nabi berkata: "Namamu Sahl" Hazn berkata: "Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku" Putri Al-Musayyib berkata: "Orang tersebut senantiasa bersikap keras lawan kami setelahnya". (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang cantik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban wali. Di antara nama-nama yang indah yang menarik diberikan adalah nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Dari Jabir Ra dari Rasul SAW sira bersabda: "Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku". (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Islam, silahkan kumpulan:

Memberi Nama Bayi atau Anak Secara Islami

Menjatuhkan Rambut

Membabat rambut ialah anjuran Rasul yang benar baik untuk dilaksanakan begitu anak yang baru mengembol pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Setiap anak terpenjara dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur". (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Lembut dan Husein lalu beliau menyedekahkan galuh seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan secara rata; gak boleh seharga mencukur beberapa kepala dan sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak serabut yang dicukur dan ditimbang semakin —insya Allah- bertambah besar lagi sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan identitas Allah, akur Allah terimalah (kurban) atas Muhammad & keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad. " (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk budak ini secara kalimat Yang mahakuasa Yang Baik dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang beserta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat melorot bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs punya beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA tatkala Tuhan SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah tersebut mengandung bagian perlindungan atas syaitan yang dapat meranyau anak yang terlahir tersebut, dan tersebut sesuai secara makna hadits, yang memiliki arti: "Setiap budak itu tergadai dengan aqiqahnya. " [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Sang pencipta lebih tersembunyi dari huru-hara syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sambil Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah "bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sambil aqiqahnya".

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak di hari perkiraan. Sebagaimana Kepala Ahmad menyiarkan: "Dia tergadai dari memberikan Syafaat bagi kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)".

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mencicip syukur untuk karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menampakkan rasa rewel dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah mendindingi ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan tetap banyak sedang hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah tersebut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin serta diringkas balik dari kitab "Ahkamul Aqiqah" karya Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Manjapada al-Bustoni, dengan judul "Aqiqah" terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]